• CHIC Magazine on Pinterest
    • CHIC Magazine on Instagram
    • CHIC Magazine on Youtube
Wednesday, 21 September 2011
Movie: Badai Di Ujung Negeri
Movie: Badai Di Ujung Negeri

Pemain: Arifin Putra, Astrid Tiar, Yama Carlos, Jojon, Ida Leman

Sutradara: Agung Sentausa

Genre: Drama

Rilis: 29 September 2011

Film ini berkisah tentang Badai, seorang marinir yang ditugaskan di pos jaga perbatasan Indonesia, di sebuah pulau di Laut Cina Selatan. Penemuan mayat misterius mempertemukannya kembali dengan Joko, sahabat lama yang ditugaskan di kapal KRI. Anisa seorang gadis setempat mempertanyakan kepastian hubungannya dengan Badai. Badai ragu untuk membuat keputusan karena dia bisa dipindahtugaskan kapan pun, kemana pun.

          Dika, anak nelayan teman Badai, ditemukan mati. Kesalahpahaman Joko dan Badai tentang kematian Nugi, adik Joko, mempengaruhi kerjasama mereka dalam menemukan siapa pembunuh Dika dan mayat-mayat lain yang belakangan bermunculan terapung di laut. Badai dan Joko dijebak ke pulau terpencil sementara para pembunuh merencanakan pembajakan sebuah kapal tanker di laut perbatasan, memanfaatkan kelemahan konflik di antara mereka dan kondisi kapal KRI yang sudah tua

          Sang sutradara, Agung Sentausa, sempat gamang untuk menyutradari film ini. Badai Di Ujung Negeri merupakan film pertama yang ia sutradarai pada tahun 2010. Sebagai seorang muda yang mengalami masa-masa Reformasi 1998, hal yang berkaitan dengan tentara bukanlah isu favoritnya, apalagi di film ini, yang tokoh utamanya adalah tentara.

          Bersama penulis skenario Ari M Syarif, Agung bahkan melakukan riset lagi, termasuk pergi ke daerah-daerah perbatasan selama beberapa bulan untuk bisa mendapatkan arah yang diinginkan sesuai dengan misi dan visi dalam film ini. Baru kemudian, mereka melakukan persiapan produksi dan syuting dilakukan pada Oktober-Desember 2010 serta 2 minggu syuting tambahan di Maret 2011.

          Badai Di Ujung Negeri mengambil lokasi syuting sebagian besar di provinsi Riau Kepulauan, terutama di Pulau Bintan selama 4 bulan. Dengan 90% di luar ruangan yang sekitar 70% lokasinya berhubungan dengan laut adalah tantangan yang luar biasa bagi sang sutradara. (Kontributor: Valentina)